Sejarah Luragung
Luragung adalah nama sebuah Kecamatan yang berada di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang Sindangsuka, Luragungtonggoh, Cigedang, Dukuhpicung, Walaharcageur, Panyosogan, Cikandang, Dukuhmaja, Cikaduwetan dan Benda, Gunungkarung, Wilanagara, Sindangsari.
Kecamatan Luragung sekarang sudah seperti kota, terdapat pusat keramaian seperti pasar, pusat perbelanjaan, terminal, Alun-alun dan lain sebagainya. Dengan pesatnya perkembangan perekonomiannya yang tak lepas dari peran pemerintahan sehingga kota kecil dari bagian Kabupaten Kuningan ini semakin berkembang dari segala bidang. Tapi tidak semua orang tahu bahwa nama Luragung ini ada cerita atau sejarahnya.
Ada pun sejarah singkat terlahirnya nama Luragung adalah dimana pada zaman dahulu kala sebuah cerita beredar di masyarakat sekitar yang berasal dari seorang tokoh yang bernama Buyut Ranggakencana alias Buyut Agung.
Menurut legenda, Buyut Ranggakencana ini adalah orang sakti yang menguasai Pegunungan Subang. Tokoh yang menjadi cikal bakal terlahirnya nama Luragung ini menurut cerita pada saat itu tidak mempunyai istri, maka dari itu untuk menemaninya ki Buyut Agung ini memanggil adik kandungnya sendiri yang bernama Buyut Kancanawati.
Buyut Kancanawati ini adalah sesosok wanita berparas cantik jelita, seiring berjalannya waktu karena lama hidup bersama, akhirnya Buyut Ranggakencana ini mulai merasakan adanya sesuatu yang aneh, yaitu mulai tumbuh rasa cinta terhadapadik kandungnya sendiri.
Setelah lama memendam rasa cintanya terhadap Buyut Kancanawati, akhirnya tokoh pria yang memiliki peliharaan kuda Sembrani, ayam dan kerbau ini akhirnya mengungkapkan persaannya. Mendengar pernyataan cinta dari Ranggakencana, maka Buyut Kancanawati menolak mentah mentah pernyataan cinta tersebut karena dia menyadari bahwa yang mencintainya itu adalah kakak kandungnya sendiri.
Karena ungkapan cintanya ditolak, maka Buyut Ranggakencana melakukan semedi(tapa) untuk bisa meluluhkan hati adiknya agar bisa dipersunting menjadi istrinya. Singkat cerita setelah selesai melakukan semedi, Buyut Ranggakencana kembali mendatangi adiknya untuk mencoba menyatakan rasa cintanya.
Namun Buyut Kencanawati bersikukuh dan tetap menolak cintanya, dan kemudian karena kesaktiannya beliau merubah dirinya dari yang semula berwajah cantik menjadi buruk rupa dan namanya pun diganti menjadi Buyut Betara Sulanggir Kuning yang saat itu tinggal di Alun- alun Luragung.
Karena Cintanya ditolak Oleh Buyut Kancanawati, maka Buyut Ranggakencana atau lebih dikenal dengan nama Buyut Agung ini menghilang (Ngahiang), atau dengan kata lain dalam bahasa Sunda (Nga lurkeun) atau (Lur) yang artinya meninggalkan begitu saja, sementara Agungnya berasal dari nama Buyut Agung. Hingga akhirnya terjadilah nama daerah Luragung yang sekarang sudah memiliki kemajuan yang cukup pesat dengan menyandang motto "Luragung Ngadeg Tumenggung".
Situs-situs Yang Berada Di Kecamatan Luragung
Selain tentang sejarahnya admin juga akan membahas tentang beberapa situs yang ada di Luragung berikut beberapa penjelasannya.
1. Situs Cinangsih
Situs terletak di Blok Cinangsih, Desa Dukuhmaja. Situs berada pada posisi 07°00'867" LS dan 108°39'020" BT dengan ketinggian 87 meter di atas permukaan laut (m dpl).
Di areal situs Cinangsih ditemukan makam dengan batu tegak, bahan batu alam. Masyarakat tidak mengetahui secara pasti identitas makam tersebut, akan tetapi lebih dikenal dengan nama Batu Surban. Batu Surban berbentuk bulat semakin ke atas semakin mengecil. Batu Surban berukuran tinggi 35 cm.
2. Makam Bunihaji
Makam terletak di Dusun Babakan, Desa Luragunglandeuh dan berada di areal tanah desa yang dikenal dengan nama Situs Cibunihaji. Situs berada pada posisi 07°01'020" LS dan 108°39'339"BT dengan ketinggian 70 m dpl.
Menurut keterangan Wahdi (69 th) tokoh masyarakat setempat, bahwa ini adalah makam Sunan Panyilih atau disebut juga Syekh Duliman, yang berasaldari Jawa. Setelah kedatangan Sunan Gunung Jati di Luragung, Sunan Panyilih menunaikan ibadah haji, dan sekembali dari Mekkah terus menyebarkan Islam dengan berganti nama Syekh Duliman. Makam berupa tumpukan batu-batu alam dengan bentuk tidak beraturan berukuran 165 x 185 cm. Makam terletak lebih kurang 30 m dari tepi Ci Sanggarung, dan jauh dari pemukiman penduduk, dengan kawasan dikenal dengan nama Cibunihaji.
3. Makam Buyut Ratu Pakuan
Makam Buyut Ratu Pakuan berada di Desa Dukuhmaja merupakan desa pemekaran dari Desa Luragunglandeuh. Desa Dukuhmaja terletak pada posisi 07°00'490" LS dan 108°38'771" BT dengan ketinggian 134 m dpl. Makam ditandai dua nisan berorientasi utara- selatan. Nisan berupa batu tegak terbuat dari batu alam (andesit). Nisan sebelah utara berukuran tinggi 33 cm, lebar 22cm dan tebal 15 cm, dan sebelah selatan berukuran tinggi 27 cm, lebar 20 cm, dan tebal 12 cm. Jarak antarnisan 202 cm.
Jirat berupa susunan batu alam berdenah empat persegi panjang. Jirat pertama paling bawah berukuran panjang 308 cm, dan lebar 123 cm. Jirat kedua berukuran panjang 286 cm, lebar 103 cm, jirat ketiga berukuran panjang 266 cm, lebar 89 cm, jirat keempat paling atas berukuran panjang 258 cm, lebar 76 cm. Makam diberi bangunan pelindung berupa cungkup dengan bangunan setengah pemanen, tembok semen, dan atap genteng, berpintu satu berukuran 6,5 X 5,5 m. Makam hingga sekarang dikeramatkan dan sering dikunjungi para peziarah. Di areal makam Buyut Ratu Pakuan dilakukan tradisi upacara Nyuguh. Menurut cerita tradisi nyuguh merupakanamanat atau wasiat Eyang Suramanggala kepada setiap pemimpin baru di kawasan Luragung wajib melaksanakan upacara tersebut setiap tahun pada Jum'at pertama Bulan Maulid (hari kelahiran Nabi Muhammad SAW). Nyuguh merupakan tradisi Desa Luragung untuk menyajikan makanan kepada 40 prajurit (sering menjelma menjadi harimau) yang pernah mengabdi pada Eyang Suramanggala, dengan maksud agar desa tetap aman dan sejahtera. Bersamaan upacara ini juga di keluarkan benda-benda pusaka warisan turunan Luragung berupa tombak, keris, golok dan lainnya.
Makam Buyut Suramanggala terletak lebih kurang 200 m ke arah utara dari makam Buyut Ratu Pakuan. Makam berada lebih kurang 30 m dari Ci Sande, dan berada pada posisi 07°00'154" LS dan 108°38'949" BT dengan ketinggian 76 m dpl. Pada kompleks makamterdapat enam makam lainnya yang tidak diketahui identitasnya. Pada salah satu makam terdapat nisan berangka tahun 1870. Makam hingga sekarang masih dikeramatkan penduduk setempat dan sering dikunjungi para peziarah.
4. Makam Buyut Mesir
Situs terletak di Dusun Babakan, Desa Luragunglandeuh dan berada di areal tanah desa. Situs berada pada posisi 07°01'342" LS dan 108°39'352" BT dengan ketinggian 94 m dpl. Makam di perkampungan penduduk, dan sering dikunjungi peziarah yang datang dari Jakarta, Cirebon, Bandung. Di situs ini terdapat makam Buyut Mesir atau dikenal juga dengan nama makam Pangeran Sumber Tengah. Makam ditandai empat nisan berorientasi utara - selatan. Nisan bentuk pipih dan jirat terbuat dari batu- batu alam berukuran panjang 287 cm, lebar 107 cm.
Menurut informasi Karwa (54 th) dari orang tua bahwa nama lain Buyut Mesir adalah Pangeran Sumber Tengah. Pangeran Sumber Tengah pengikut Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam pada penduduk Luragung. Pangeran Sumber Tengah mempunyai seorang istri dan sampai akhir hayatnya dimakamkan di Dusun Babakan. Menurut cerita orang-orang tua dahulu, di antara Desa Luragunglandeuh dengan Desa Cikaduwetan ada bangunanpasantren. Saat ini, areal pasantren tersebut sudah tidak dapat ditemui karena lokasi ditumbuhi semak belukar, bangunannya masa itu terbuat dari bahan kayu dan bambu sehingga mudah mengalami kerusakan.
5. Makam Buyut Pandita Sukmajati
Makam Buyut Pandita Sukmajati terletak di Desa Cikadu wetan dan berada di areal tanah desa. Situs berada pada posisi 07°01'195" LS dan 108°39'555" BT dengan ketinggian 81 m dpl. Makam Buyut Pandita Sukmajati ditandai dua nisan berorientasi utara-selatan. Nisa berbentuk batu tegak terbuat dari batu alam. Nisan sebelah utara berukuran tinggi 40 cm, lebar 28 cm dan tebal 15 cm, dan nisan sebelah selatan berukuran tinggi 33 cm, lebar 23 cm, dan tebal 11 cm. Jarak antarnisan 132 cm. Jirat keramik warna merah yang semula menurut informasi berupa susunan batu-batu alam. Makam diberi bangunan pelindung berupa cungkup dengan bangunan semi permanen bertembok semen dan beratap genteng. Makam berada di perbukitan dan lebih kurang 20 m dari tepi jalan raya Cibingbin- Luragung. Makam hingga sekarang masih dikeramatkan penduduk setempat karena sebagai tokoh penyebar Islam.
6. Kompleks Makam Pasir Lame
Kompleks makam Pasir Lame terletak di Dusun Babakan, Desa Luragunglandeuh dan berada di areal tanah desa. Situs berada pada posisi 07°01'344" LS dan 108°39'076" BT dengan ketinggian 113 m dpl. Menurut informasi Wahdi, Buyut Jangkung atau Buyut Wargadipura adalah ayah dari Buyut Suranggajaya. Situs Pasir Lame merupakan kompleks makam tokoh-tokoh (karuhun) Luragung ataudikenal dengan orang-orang sakti. Makam Buyut Jangkung atau Buyut Wargadipura terletak pada halaman paling utama atau paling utara. Dilihat dari keletakannya makam-makam lain berjumlah 15 berada pada posisi segaris dan berbaris di sebelah selatan makam Buyut Wargadipura.
Makam-makam di situs Pasir Lame berjirat bata dan tidak bernisan. Bentuk jirat semakin ke atas semakin mengecil dengan denah empat persegi panjang. Wahdi mengatakan, bahwa nisan pada kompleks makam tersebut semula terbuat dari bahan kayu dan hanya berupa gundukan tanah. Makam berada di areal perbukitan dengan luas lebih kurang 300 m², lokasi jauh dari perkampungan penduduk dan hingga sekarang dikeramatkan.
7. Makam Buyut Jakati
Makam Buyut Jakati terletak di RT 09. Dusun 2, Desa Sindangsari dan berada di areal tanah desa. Situs berada pada posisi 07°01'617" LS dan 108°37'241" BT dengan ketinggian 137 m dpl. Makam Buyut Jakati oleh masyarakat setempat juga dinamakan Makam Bulet, karena lokasi makam terletak di lahan yang membentuk lingkaran dan berada pada areal tanaman tebu milik masyaraka
Makam ditandai dua nisan berorientasi utara-selatan. Nisan bentuk pipih ornamen medalion dan sulur. Nisan sebelah utara dan selatan masing-masing berukuran tinggi 36 cm, lebar 20,5 cm dan tebal 6 cm, dengan jarak antarnisan 112 cm. Jirat dari bahan bata merah berukuran panjang 330 cm, lebar 75 cm. Makam berada di lokasi pekebunan tebu masyarakat pada lahan berbentuk lingkaran/bulat berukuran lebih kurang 30 m². Menurut infomasi Kepala Desa T. Iyan Rusdiana (59 tahun), bahwa Buyut Jakati utusan dari Cirebon sebagai tokoh penyebar Islam, dan sebagai demang pertama di desa tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa demang adalah jabatan kepala daerah setingkat camat pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda.
8. Kompleks Makam Dalem Panji
Kompleks makam dengan tokoh utama Dalem Panji ini terletak di Dusun Pahing, Desa Luragungtonggoh. Makam berada di areal Tanah Pemakaman Umum Desa Luragungtonggoh dengan luas lebih kurang 1 Ha. Situs berada pada posisi 07°01'279" LS dan 108°38'348" BT dengan ketinggian 132 m dpl.
Makam Dalem Panji dikelilingi tembok semen, dengan luas 8 x 8 m. Posisi makam Dalem Panji terletak paling utara, di sebelah barat dan timur makam terdapat beberapa makam lainnya yang tidak diketahui identitasnya. Makam Dalem Panji berjirat bata, semakin ke atas semakin mengecil dengan denah persegi panjang.
Menurut informasi Hadiwianta (69 th) tokoh masyarakat setempat, Dalem Panji berasal dari Mataram. Areal makam tersebut merupakan kompleks makam kuna. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya nisan-nisan tua yang tidak diketahui identitasnya. Pada hari jumat kliwon kompleks makam Dalem Panji sering dikunjungi para peziarah yang datang dari Cirebon dan sekitarnya dengan maksud berdoa, meminta tolong (khususnya mengenai kedudukan dalam jabatan).
Sekian sejarah Luragung yang dapat admin sampaikan jika banyak kekurangan itu murni kesalahan saya, mohon dimaafkan dan dibenarkan oleh para pembaca sekalian.
.jpeg)







Komentar
Posting Komentar